Kritik & Saran

Pendaftaran Online

Petunjuk Jalan


APA ITU KATARAK ?

Katarak adalah kondisi dimana lensa mata yang seharusnya bersih menjadi keruh, sehingga menghalangi cukupnya cahaya memasuki mata dan mengganggu penglihatan.

Katarak berasal dari bahasa Yunani yaitu Kataarhakies, Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan ) lensa, denaturasi protein lensa atau terjadi akibat kedua-duanya.

Berdasarkan data World Health Organization (WHO), katarak merupakan penyebab kebutaan dan gangguan penglihatan terbanyak di dunia. Dengan proses penuaan populasi umum, prevalensi keseluruhan kehilangan penglihatan sebagai akibat dari kekeruhan lensa meningkat setiap tahunnya.

 

KLASIFIKASI KATARAK

Klasifikasi katarak diklasifikasikan berdasarkan beberapa criteria berbeda

  1. Waktu kejadian (kongenital atau didapat)

Didapat : 

  1. Katarak juvenile : usia 1-40 tahun
  2. Katarak presenil : usia 40-50 tahun
  3. Katarak senil      : usia > 50 tahun
  1.  
  2.  

 

KATARAK KONGENITAL DAN DEVELOPMENTAL

Katarak ini terjadi akibat gangguan pada pertumbuhan normal lensa. Apabila gangguan tersebut terjadi sebelum lahir, anak yang lahir akan mengalami katarak kongenital. Oleh karena itu kekeruhan pada katarak kongenital terbatas pada nukleus embrionik atau fetalis. Penyebab pasti katarak kongenital dan developmental belum diketahui. Beberapa faktor yang dihubungkan dengan tipe tertentu katarak  antara lain herediter/genetic, Faktor maternal / ibu antara lain Malnutrisi selama kehamilan, Infeksi maternal seperti rubella dihubungkan dengan katarak pada 50% kasus. Obat; katarak kongenital juga sering dikaitkan dengan obat yang dikonsumsi oleh ibu selama kehamilan (misalnya talidomid, kortikosteroid), Radiasi; paparan radiasi selama kehamilan dapat menyebabkan katarak kongenital.  Factor infantile/bayi , dan 50% katarak kongenital idiopatik atau belum diketahui penyebabnya.

 

KATARAK SENILIS

Katarak senilis atau biasa juga disebut ‘age-related cataract’ merupakan katarak dapatan yang paling sering, mengenai umur lebih dari 50 tahun. Setelah umur 70 tahun, lebih dari 90% individu mengalami katarak senilis. Kondisi ini biasanya bilateral, tetapi pada tahap awal hampir selalu satu mata yang terlibat. Secara morfologi katarak senilis terjadi dalam dua bentuk, yaitu kortikal (katarak lunak) dan nuklear (katarak keras)

Katarak senilis berkembang seiring dengan proses bertambahnya usia. Etiopatogenesis yang pasti belum jelas, beberapa faktor yang berperan dalam terjadinya katarak senilis adalah:

 

TANDA KLINIS

Beberapa pemeriksaan yang diperlukan untuk melihat tanda dari katarak:

  1. Pemeriksaan ketajaman penglihatan
  2. Iluminasi oblik
  3. Tes iris shadow (Iris shadow positif merupakan tanda dari katarak imatur)
  4. Pemeriksaan oftalmoskop langsung
  5. Pemeriksaan slit-lamp memberikan gambaran menegenai morfologi kekeruhan (lokasi, ukuran, bentuk, pola warna, dan kepadatan dari nukleus)

 

PENATALAKSANAAN

Meski telah banyak usaha yang dilakukan untuk memperlambat progresivitas atau mencegah terjadinya katarak, tatalaksana masih tetap dengan pembedahan. Tidak perlu menunggu katarak menjadi “matang”. Dilakukan tes untuk menentukan apakah katarak menyebabkan gejala visual  sehingga menurunkan kualitas hidup. Pasien mungkin mengalami kesulitan dalam mengenali wajah, membaca, atau mengemudi. Beberapa pasien sangat terganggu oleh rasa silau. Pasien diberikan informasi mengenai prognosis visual mereka dan harus diberitahu pula mengenai semua penyakit mata yang terjadi bersamaan yang bias mempengaruhi hasil pembedahan katarak.

Penataksanaan Non-Bedah

  1. Terapi Penyebab Katarak

Pengontrolan diabetes melitus, menghentikan konsumsi obat-obatan yang bersifat kataraktogenik seperti kortikosteroid, fenotiasin, dan miotik kuat, menghindari iradiasi (infra merah atau sinar-X) dapat memperlambat atau mencegah terjadinya proses kataraktogenesis. Selain itu penanganan lebih awal dan adekuat pada penyakit mata seperti uveitis dapat mencegah terjadinya katarak komplikata.

  1. Memperlambat Progresivitas

Beberapa preparat yang mengandung kalsium dan kalium digunakan pada katarak stadium dini untuk memperlambat progresivitasnya, namun sampai sekarang mekanisme kerjanya belum jelas. Selain itu juga disebutkan peran vitamin E dan aspirin dalam memperlambat proses kataraktogenesis.

  1. Penilaian terhadap Perkembangan Visus pada Katarak insipien dan Imatur
  1. Refraksi; dapat berubah sangat cepat, sehingga harus sering dikoreksi.
  2. Pengaturan pencahayaan; pasien dengan kekeruhan di bagian perifer lensa (area pupil masih jernih) dapat diinstruksikan menggunakan pencahayaan yang terang. Berbeda dengan kekeruhan pada bagian sentral lensa, cahaya remang yang ditempatkan di samping dan sedikit di belakang kepala pasien akan memberikan hasil terbaik.
  3. Penggunaan kacamata gelap; pada pasien dengan kekeruhann lensa di bagian sentral, hal ini akan memberikan hasil yang baik dan nyaman apanila beraktivitas di luar ruangan.
  4. Midriatil; dilatasi pupil akan memberikan efek positif pada lataral aksial dengan kekeruhan yang sedikit. Midriatil seperti fenilefrin 5% atau tropikamid 1% dapat memberikan penglihatan yang jelas.

 

PEMBEDAHAN KATARAK

Pembedahan katarak adalah pengangkatan lensa natural mata (lensa kristalin) yang telah mengalami kekeruhan, yang disebut sebagai katarak.

Indikasi penatalaksanaan bedah pada kasus katarak mencakup indikasi visus,medis, dan kosmetik.

  1. Indikasi visus; merupakan indikasi paling sering. Indikasi ini berbeda pada tiap individu, tergantung dari gangguan yang ditimbulkan oleh katarak terhadap aktivitas sehari-harinya.
  2. Indikasi medis; pasien bisa saja merasa tidak terganggu dengan kekeruhan pada lensa matanya, namun beberapa indikasi medis dilakukan operasi katarak seperti glaukoma imbas lensa (lens-induced glaucoma), endoftalmitis fakoanafilaktik, dan kelainan pada retina misalnya retiopati diabetik atau ablasio retina.
  3. Indikasi kosmetik; kadang-kadang pasien dengan katarak matur meminta ekstraksi katarak (meskipun kecil harapan untuk mengembalikan visus) untuk memperoleh pupil yang hitam.

 

Jenis-jenis operasi katarak :

  1. Phacoemulsification (Phaco)
  2. Small Incision Cataract Surgery (SICS)
  3. Extracapsular Cataract Extraction (ECCE)
  4. Intracapsular Cataract Extraction (ICCE)

 

KOMPLIKASI

Komplikasi operasi dapat berupa komplikasi preoperatif, intraoperatif, postoperatif awal, postoperatif lanjut, dan komplikasi yang berkaitan dengan lensa intra okular (intra ocular lens, IOL).

  1. Komplikasi preoperatif
  1. Ansietas; beberapa pasien dapat mengalami kecemasan (ansietas) akibat ketakutan akan operasi.
  2. Mual dan gastritis; akibat efek obat preoperasi seperti asetazolamid dan/atau gliserol.
  3. Konjungtivitis iritatif atau alergi; disebabkan oleh tetes antibiotik topical preoperatif, ditangani dengan penundaan operasi selama 2 hari.
  4. Abrasi kornea; akibat cedera saat pemeriksaan tekanan bola mata dengan menggunakan tonometer Schiotz. Penanganannya berupa pemberian salep antibiotik selama satu hari dan diperlukan penundaan operasi selama 2 hari.

 

  1. Komplikasi intraoperatif
  1. Laserasi m. rectus superior; dapat terjadi selama proses penjahitan.
  2. Perdarahan hebat; dapat terjadi selama persiapan conjunctival flap atau selama insisi ke bilik mata depan.
  3. Cedera pada kornea (robekan membrane Descemet), iris, dan lensa; dapat terjadi akibat instrumen operasi yang tajam seperti keratom.
  4. Cedera iris dan iridodialisis (terlepasnya iris dari akarnya)
  5. Lepas/ hilangnya vitreous; merupakan komplikasi serius yang dapat terjadi akibat ruptur kapsul posterior (accidental rupture) selama teknik ECCE.

 

  1. Komplikasi postoperatif awal

Komplikasi yang dapat terjadi segera setelah operasi termasuk hifema, prolaps iris, keratopati striata, uveitis anterior postoperatif, dan endoftalmitis bakterial.

 

  1. Komplikasi postoperatif lanjut

Cystoid Macular Edema (CME), delayed chronic postoperative endophtalmitis, Pseudophakic Bullous Keratopathy (PBK), ablasio retina, dan katarak sekunder merupakan komplikasi yang dapat terjadi setelah beberapa waktu post operasi.

 

  1. Komplikasi yang berkaitan dengan IOL

Implantasi IOL dapat menyebabkan komplikasi seperti uveitis-glaucoma-hyphema syndrome (UGH syndrome), malposisi IOL, dan sindrom lensa toksik (toxic lens syndrome).

 

PROGNOSIS

Tindakan pembedahan secara defenitif memperbaiki ketajaman penglihatan pada lebih dari 90% kasus.

dr. Danu Adi Prakosa Darmawan


© 2018 RS Panti Wilasa Citarum Semarang. All rights reserved